Berlibur ke Pulau Seribu

Tahun ini sudah dua kali menggunakan transportasi laut. Pertama saat ke Pulau Bawean dan yang kedua kemarin berlibur ke Pulau Seribu. Sebagai orang awam yang menggunakan transportasi laut maka timbul banyak pertanyaan dan tentu saja kecemasan. Saya tidak mengira bahwa armada yang akan membawa saya menyebrang ke Pulau Seribu, lebih tepatnya Pulau Harapan adalah jenis transportasi laut seadanya. Terombang-ambing selama 3 jam tanpa jaminan keselamatan penumpang karena fasilitas yang sangat tidak layak membuat dzikir selama perjalanan. Tetapi hal ini memberi saya kesadaran bahwa masih banyak yang harus kita perhatikan di negri tercinta ini. Kecelakaan memang bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Namun jika kita sendiri yang memberi ruang tentu ini suatu keteledoran yang nyata.
Saya tidak terlalu mempermasalahkan keadaan terminal yang semrawut (tapi kalau bisa lebih diperindah ya sangat lebih bagus) atau tiket yang kurang jelas karena terlalu banyak travel agent. Sungguh lieur melihatnya. Namun, tentu saja keadaan kapal menjadi point utama. Saat melihat kapal yang terparkir dengan banyaknya penumpang sudah berada disana langsung timbul pertanyaan "Apakah ini tidak over capacity?" Lalu saat naik kapal, "Oh tidak ada seat number." Lalu saat masuk ke dalam kapal "What?? Pelampungnya ga dibagikan secara teratur dan merata. Bahkan ada yang sudah tidak layak. Kumaha ieu?" Huahahhaha.
Sebelumnya sewaktu saya naik kapal menyebrang ke Pulau Bawean itu lebih teratur. Ada seat number dan alat keselamatannya jelas. Ber-AC pula. Iya, saya belum sempat cari tahu, ternyata ada yang lebih mudah yaitu naik speed boat di Marina Ancol. Tapi kembali lagi bukan disitu masalahnya. Bukan hanya memebicarakan keselamatan saya. Hanya tidak habis pikir yang setiap hari menggunakan transportasi ini. Amazing. Masyarakat menengah kebawah dengan intensitas yang sering untuk pulang pergi pasti lebih memilih kapal ini dengan harga yang paling murah.
Jadi timbul kesadaran, apa kita terlalu egois ya, lebih sering mengutamakan pengembangan transportasi darat bahkan udara. Jarang terdengar pembaruan transportasi laut. Apakah sudah ada standarisasi kapal yang layak? Apakah ada Uji KIR-nya? Hmmm. Oke nanti coba kita cari tahu lagi.
Oh ya, selain itu pembelian tiket pun kebanyakan masih manual. Sewaktu di Gresik hendak ke Bawean teman saya harus mengantri dari pagi untuk membeli tiket. Haduh, zaman modern seperti ini dan itu adalah transportasi satu-satunya masih manual. Tidak bisa dipesan juga sebelum hari H. Mungkin karena kapasitas dan jumlah kapal yang terbatas jadi tidak diperbolehkan memesan sebelum hari H dan online, hmmmm.....

Baiklah mari kita share dulu poto-poto holiday










Salam
Fia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Taj Mahalnya Indonesia